HIMIPOL

HIMIPOL

Sunday, 9 December 2012

PENINGKATAN POPULASI MUSLIM DI INGGRIS


Islam di Inggris semakin menggeliat. Apa penyebabnya dan bagaimana suasana di sana? Berikut laporan NURANI SUSILO, koresponden Jawa Pos di London.
NAMA pria itu Muhammad Hilaal. Pria setengah baya asal Singapura itu kali pertama datang ke London pada 2000. Hilaal dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat agamis. Kedua orang tuanya adalah guru mengaji. ”Rumah saya seperti sebuah madrasah. Hampir setiap hari ada pengajian,” cerita Hilaal kepada Jawa Pos.
Ayah Hilaal adalah muslim kelahiran Vietnam. Namanya Abu Bakar bin Ta’al. Sedangkan ibunya berasal dari Indonesia, yang pindah ke Singapura untuk berdakwah. Namanya Siti Maisaroh. Dia adalah cucu pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. ”Semangat untuk berdakwah selalu mengalir dalam darah saya,” kata Hilaal yang cukup fasih berbahasa Indonesia dengan dialek Melayu yang kental.
Di London, Hilaal aktif di World Assembly of Moslem Youth (WAMY) di Goodge Street, London. Dia membantu program WAMY mengadakan pameran dengan tema Islam. Dia juga membantu membuka stan bernuansa Islam di tempat-tempat umum, seperti di Trafalgar Square dan Hyde Park.
Hilaal juga pernah ditunjuk sebagai koordinator pameran keliling ke sekolah-sekolah dan pemerintah kota (borough) di London untuk mengenalkan Islam.
Selain di WAMY, Hilaal aktif di Islamic Circle, sebuah kelompok pengajian yang diadakan di London Central Mosque, masjid terbesar di London. Pengajian itu dilaksanakan setiap Sabtu pukul 15.00 waktu Inggris. Di tempat itu Hilaal banyak bertemu dengan mualaf baru.
Di luar kegiatan dakwah, Hilaal kuliah di fakultas hukum di salah satu universitas di London. Di kampusnya, Hilaal juga berdakwah. Satu per satu temannya mulai tertarik dengan Islam. Bahkan, beberapa di antara mereka menyatakan masuk Islam. Misalnya, Simon, teman sekelasnya. Ketika Simon mengucapkan dua kalimah syahadat, Hilaal yang menjadi saksi. Setelah menjadi muslim, nama Simon berganti menjadi Saifullah.
Beberapa hari setelah Saifullah mengucap syahadat, Hilaal mengundang beberapa muslim teman kuliahnya untuk berkumpul di rumahnya, menyambut kedatangan seorang ”brother” baru di antara mereka. ”Ada enam yang hadir. Dan, itulah kali pertama pengajian Steps2Allah diadakan,” katanya.
Nama Steps2Allah (dibaca Steps to Allah) dikatakan Hilaal sebagai sebuah harapan bahwa setiap kehadiran dalam pengajian tersebut adalah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah.
Saat ini tidak kurang dari 100 mualaf dari 30 negara yang aktif dalam pengajian tersebut. Hilaal menyebutkan, mualaf binaan Steps2Allah itu berasal, antara lain, dari Finlandia, Norwegia, Irlandia, Jerman, Jamaica, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan tentu saja warga asli Inggris.
Sebagian besar mualaf itu memilih Islam sebagai jalan hidupnya karena alasan dan pengalaman pribadi mereka. ”Ada yang masuk Islam hanya karena membaca Alquran,” kata Hilaal. Ada pula yang memeluk Islam karena terpesona dengan kepribadian beberapa muslim yang mereka kenal.
Saifullah, Hilaal, dan Steps2Allah adalah satu di antara sekian banyak cerita mengenai semakin berkembangnya Islam di Inggris. British Muslim, demikian pemeluk Islam di Inggris sering disebut, selain terdiri atas para imigran dari negara-negara muslim, seperti Hilaal, adalah para convert atau mualaf. Mereka adalah para pemeluk Islam baru, seperti halnya Saifullah dan teman-temannya di pengajianSteps2Allah.
Menurut survei surat kabar The Times di Inggris yang dilakukan oleh Labor Force Survey, populasi penduduk muslim di Inggris meningkat sebanyak 500 ribu dalam jangka waktu 4 tahun terakhir. Pertumbuhan muslim pada periode 2004-2008 itu, menurut data dari kantor statistik Inggris, adalah 10 kali lipat jika dibandingkan dengan agama-agama lain.
British Muslim terbanyak adalah keturunan Asia, terutama Pakistan dan Bangladesh. Disusul oleh negara-negara Afrika, seperti Maroko, Nigeria, dan Somalia, serta Timur Tengah.
Selain pendatang dan para pemeluk Islam baru, menurut survei oleh The Times itu, meningkatnya jumlah muslim di Inggris terjadi karena angka kelahiran yang tinggi pada keluarga muslim jika dibandingkan dengan nonmuslim pada umumnya. Banyak penduduk Inggris nonmuslim, seperti juga kecenderungan pada kehidupan modern di dunia, yang memilih karier daripada berkeluarga. Mereka itu punya anak, rata-rata 1-2. Itu sebabnya pada survei di atas jumlah terbesar muslim adalah anak-anak di bawah usia 4 tahun.
Faktor lain, menurut para pakar kependudukan, adalah tumbuhnya keinginan dari penduduk untuk berani mengakui dirinya sebagai muslim sebagai reaksi atas keterlibatan Barat pada perang di negara-negara muslim, seperti Afganistan dan Palestina. Perang terhadap negara berpenduduk mayoritas Islam dan juga reaksi Barat terhadap terorisme telah memperkuat identitas diri muslim di dunia, termasuk Inggris.
Warga muslim di Inggris saat ini, menurut survei terakhir (2008), adalah 2,4 juta atau sekitar 3 persen dari total penduduk Inggris. Sedangkan penganut Kristen pada tahun tersebut adalah 42,6 juta. Namun, jika pada muslim yang terbanyak adalah pada anak-anak, untuk pemeluk Kristen yang terbanyak adalah pada usia di atas 70 tahun.
Laporan komisi hak asasi Islam, Islamic Human Rights Comission (IHRC), muslim Inggris terbanyak bertempat tinggal di London, hampir 10 persen Londoners (sebutan untuk warga London) adalah muslim.
Muhammad Abdul Bari, sekertaris jenderal Muslim Council of Britain (MCB), payung organisasi-organisasi Islam di Inggris, mengatakan bahwa sejalan dengan peningkatkan jumlah warga muslim, maka akan ada peningkatan jumlah masjid di Inggris yang saat ini tercatat sekitar 1.600 masjid. Di antara jumlah itu, 500 masjid berada di London.(c4/kum)
Muslim Meningkat, Masjid-Masjid di Inggris KewalahanSalat Id, Bisa sampai Lima Kali
Kebanyakan masjid di Inggris kewalahan menampung jamaah. Karena itu, banyak masjid yang saat ini gencar merenovasi bangunannya.
DILIHATsekilas, tidak ada yang istimewa pada bangunan di Woodford Avenue di depan Stasiun Gants Hill, London Timur, itu. Dari luar, bangunan tersebut lebih mirip sebuah rumah toko (ruko). Di kanan dan kiri bangunan bercat hijau itu terdapat toko kelontong, toko bangunan, bengkel, dan biro perjalanan.
Yang membedakan dengan ruko-ruko di sekitarnya adalah setiap Jumat siang. Bangunan itu ramai dengan orang-orang yang ingin salat Jumat. ”Tidak ada kubah atau menara. Hanya tulisan kecil di dinding depan yang menyatakan bahwa ini adalah Masjid Gants Hill,” kata Hendri Lucky, salah seorang warga Indonesia yang tinggal tak jauh dari masjid itu. Juga tidak ada pengeras suara yang mengeraskan suara azan.
Begitu melewati pintu masuk yang berada di samping, terlihat rak-rak sepatu, kamar kecil, dan ruang untuk wudu. Terdapat satu pintu lagi yang menghubungkan ruang wudu dengan ruang utama. Di samping pintu ini terdapat kursi tua dan di atasnya terdapat kotak amal serta kalender berisi jadwal salat.
Ruang utama masjid itu berukuran sekitar 15 meter x 25 meter. Di bagian depan terdapat ruang imam dengan mimbar untuk khotbah di sampingnya, serta jam penanda waktu salat.
Masjid Gants Hill adalah satu di antara 1.600-1.700 masjid di seluruh Inggris. Tidak seperti di Indonesia, sebagian besar masjid di Inggris tidak berbeda seperti bangunan biasa yang ada di sekitarnya alias tanpa arsitektur khusus seperti halnya masjid di tanah air.
Memang, ada sejumlah masjid yang besar dan megah seperti East London Mosque di kawasan White Chapel di London Timur dan Central Mosque di London. Central Mosque yang merupakan masjid terbesar di London, berada di jantung kota, tidak jauh dari Regent Park. Dari taman yang luas itu, bangunan masjid itu tampak mencolok dengan kubah emas dan menara yang menjulang.
Namun, kebanyakan masjid di Inggris berbentuk seperti Masjid Gants Hill, yang tadinya rumah atau ruko kemudian dialihfungsikan menjadi masjid. Tidak mengherankan bila kapasitas masjid-masjid seperti itu sangat terbatas. Hendri Lucky mengungkapkan, kapasitas Masjid Gants Hill hanya sekitar 150 jamaah. Karena jumlah jamaah melebihi daya tampung masjid, untuk salat Jumat, salat Tarawih, dan salat Id biasanya dilakukan beberapa kali. Salat Jumat dan Tarawih pada bulan Ramadan biasanya dilakukan dua kali. Sedangkan salat Id bisa dilakukan hingga lima kali.
Selain menggelar salat beberapa kali sebagai upaya untuk mengakomodasi jamaah, beberapa pengurus masjid memperbesar kompleks masjid. Masjid Ibrahim di Barking Road, London Timur, misalnya, sepuluh tahun lalu hanya berupa rumah dua lantai. Kini masjid yang terletak tak jauh dari stadion klub Liga Primer West Ham United itu terlihat megah, lengkap dengan kubah dan menara. Meskipun, ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kubah dan menara ala masjid-masjid di Indonesia.
Langkah yang sama juga dilakukan pengurus Greenwich Islamic Centre di London Tenggara, sekitar 15 menit berkendara dari Greenwich Royal Observatory, titik O waktu GMT. Dibandingkan dengan Masjid Gants Hill atau Masjid Ibrahim, masjid di kawasan Plumstead itu sebenarnya jauh lebih besar. Bangunan bercat cokelat tersebut memiliki tiga lantai, ditambah satu lantai bawah tanah. Jamaah yang bisa masuk ke masjid itu tak kurang dari 400 orang. Tapi, itu ternyata tetap tidak cukup. Setiap Jumat banyak jamaah yang harus salat di areal parkir atau trotoar jalan, meskipun sudah dilakukan dua kali salat.
”Kami tidak ingin melihat jamaah salat di luar masjid. Kasihan mereka,” kata salah seorang pengurus kepada Jawa Pos. Pada musim panas, salat di luar masjid memang tidak menjadi persoalan. Namun, begitu musim dingin tiba, ketika hujan sering turun dan suhu di luar bisa mencapai di bawah nol derajat Celsius, salat di halaman masjid tentu bukan sesuatu yang mengenakkan. Sejak tahun lalu, renovasi besar-besaran di Greenwich Muslim Centre itu mulai berjalan.(nurani susilo/c4/kum)
Dari Tujuh Masjid Jadi 1.700 Masjid

BERTAMBAHNYA warga muslim di Inggris agaknya sejalan dengan semakin banyaknya jumlah masjid di negara itu. Sebagai perbandingan, pada 1961 hanya ada tujuh masjid di Inggris. “Pada 1990 jumlah masjid menjadi sekitar 400,” kata Inayat Bunglawala, pengurus MCB (Muslim Council of Britain), seperti dikutip koran The Times. Sepuluh tahun kemudian, menurut situs Islam Salaam.co.uk, jumlah masjid di seluruh Inggris berlipat menjadi tak kurang dari 1.700.
Pada saat bersamaan, jumlah gereja menurun. Para pakar mengatakan, ribuan gereja akan ditutup dalam sepuluh tahun ke depan. Penutupan tersebut disebabkan makin sedikitnya warga Kristen yang beribadah di gereja-gereja mereka.
Gereja-gereja yang ditutup itu biasanya dialihfungsikan menjadi gudang, toko, restoran, bahkan masjid. Tidak banyak memang gereja yang kemudian menjadi masjid. Sebab, gereja Anglikan di Inggris tidak membolehkan pemilik baru menjadikan bekas gereja sebagai masjid atau tempat ibadah agama lain. Sementara itu, di Inggris mayoritas gereja adalah Anglikan.
Persoalan alih fungsi gereja menjadi masjid menjadi isu nasional beberapa tahun lalu. Itu berawal dari keberatan beberapa warga di Clitheroe, Inggris Utara. Mereka keberatan salah satu gereja Methodist di kota kecil tersebut diubah menjadi masjid. Gereja itu memang tidak lagi digunakan dan dibeli beberapa warga muslim.
Yang menarik, salah seorang pendeta mendukung upaya warga muslim itu. Dia mengatakan, jika memang warga nonmuslim tidak ingin gereja berubah menjadi masjid, pergilah ke gereja setiap Minggu. Dengan kata lain, bila hidup, tentu gereja tersebut tidak dibeli pemeluk agama lain. Keberatan warga akhirnya kandas karena pemerintah kota mengizinkan bekas gereja itu diubah menjadi masjid.
Catatan The Times menunjukkan, satu generasi lalu jumlah gereja mencapai 55.000. Pada 2005, data Christian Research memperlihatkan jumlah gereja menurun menjadi 47.600. Selama 15 tahun yang akan datang, 4.000 gereja diperkirakan tutup atau beralih fungsi.
Data The Times itu juga menyebut, jumlah pemeluk Kristen Anglikan yang masih rajin beribadah ke gereja tinggal sekitar 916.000 orang. Sementara itu, warga muslim yang beribadah ke masjid mencapai 930.000 orang. Ini adalah kali pertama jumlah pengunjung masjid melebihi pengunjung gereja.
“Lanskap budaya baru di kota-kota Inggris telah berubah. Dominasi Kristen yang homogen lambat laun mundur,” kata Ceri Peach dari Universitas Oxford dalam jurnal Geographical Review.
Yang muncul sekarang adalah rumah ibadah agama-agama lain, termasuk Islam. Meski bentuk bangunan berbeda dengan masjid yang kita kenal, esensinya tetap sama. (nurani susilo/c11/kum)
Ingin Buktikan Islam yang Sejuk dan HumanisSeorang pria bercambang tipis itu tak henti mengembangkan senyum. Di sebuah aula di London Utara malam itu, ratusan orang berjejal mengikuti acara buka puasa sekaligus penggalangan dana kemanusiaan. “Malam ini terasa istimewa karena baru kali ini aula kita penuh. Tak ada kursi kosong sama sekali,” kata Asim Sidiq, pria bercambang tipis yang juga pengurus City Circle tersebut.
City Circle adalah organisasi sosial untuk profesional muda muslim di London. Malam itu memang terasa lain. Warga muslim dengan aneka latar belakang mengikuti buka puasa. Mereka duduk berkelompok mengelilingi meja besar. Aneka hidangan tersedia. Ada menu kambing dari Timur Tengah dan kari dari India.
Ramainya acara City Circle seakan mewakili makin banyaknya organisasi bercorak Islam di Inggris. Selain menghelat acara buka puasa bersama, City Circle memiliki sekolah akhir pekan untuk anak-anak dan program membantu para tunawisma di London. “Kami ingin menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Kami ingin menunjukkan bahwa Islam adalah sejuk dan humanis,” jelas Sidiq.
Memang, setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat dan serangan di London pada 2005, umat Islam di Inggris, seperti halnya di negara-negara Barat, menghadapi pertanyaan demi pertanyaan soal Islam dan terorisme.
Di luar City Circle, ada banyak organisasi lain dengan skala lebih besar. Dua di antaranya adalah Muslim Hands dan Islamic Relief. Keduanya aktif menggalang dana untuk meringankan beban para korban bencana di berbagai tempat di dunia. Termasuk di Haiti, Padang, dan Aceh.
Berbagai organisasi kemasyarakatan bercorak Islam terhimpun ke Muslim Council of Britain (MCB). Organisasi payung itu resmi dibentuk pada 1997 setelah dilakukan konsultasi intensif selama beberapa tahun. Dengan MCB tersebut, pemerintah Inggris sering melakukan pembicaraan dan konsultasi atas berbagai hal yang terkait dengan Islam.
Ada juga kelompok-kelompok informal yang aktif menyuarakan berbagai hal. Misalnya, ketika Israel menggempur Gaza beberapa waktu lalu, berbagai kelompok mengadakan unjuk rasa setiap Minggu di Trafalgar Square.
Bagaimana warga muslim dari Indonesia? Mereka tergabung dalam Keluarga Islam di Britania Raya (Kibar). Ada satu kegiatan Kibar yang selalu ditunggu, yakni Kibar Gathering. Itu adalah silaturahmi akbar yang diselenggarakan dua kali dalam setahun. Peserta datang dari berbagai kota dan mereka akan menginap di tempat acara. Selain mempererat tali komunikasi, para peserta mengikuti acara workshop dan diskusi.
Bertemu hanya dua kali dalam setahun tentu tidak ideal sama sekali. Itulah sebabnya, di tiap kota biasanya ada pengajian. Yang selain untuk menambah tali persaudaraan, juga sebagai sarana untuk belajar agama.
“Memang harus ada pengajian-pengajian semacam ini. Di Inggris, godaan yang dihadapi warga muslim sangat berat,” ungkap Dr Daud Rasyid, intelektual muslim yang beberapa kali berkunjung ke Inggris. “Ibarat bertinju, lawan yang kita hadapi adalah Mike Tyson, bukan Elly Pical,” tutur Rasyid memberikan gambaran. 

No comments: